The
Wallace Institute: Khazanah DNA Manusia Indonesia
Oleh
Kadarsyah dan J. Hilgers
Antara tahun 1854 1862 seorang ilmuwan Inggris Alfred Russel
Wallace (1823 - 1913) melakukan ekspedisi di nusantara (Indonesia
dan Semenajung Malaya) mengumpulkan berbagai binatang.
Terkumpul sebanyak 125.660 spesimen yang terdiri atas 310
mamalia, 100 reptilia, 8.050 burung, 7.500 kerang, 13.100
lepidoptera, 83.200 coleoptera dan 13.400 insekta lainnya.
Dari koleksi tersebut, Wallace melihat kesamaan jenis
binatang antara zona barat dengan jenis binatang Asia dan
zona timur dengan Australia. Kedua zona tersebut dipisahkan
oleh suatu garis imajiner yang sekarang kita kenal sebagai
Garis Wallace. Garis imajiner ini terletak antara Bali dan
Lombok memanjang ke utara membelah Kalimantan dan Sulawesi.
Zona barat dikenal juga zona Indo-Malayan (Jawa, Sumatera,
Kalimantan) dengan jenis binatang Asia semisal monyet,
harimau, gajah. Sedangkan zona timur (Papua dan beberapa
pulau sekitarnya) dengan binatang marsupial (kanguru,
kuskus) sama seperti binatang benua Australia. Di antara
kedua zona tersebut terdapat zona transisi dimana terlihat
binatang unik yang tidak ada di belahan Asia maupun
Australia misalnya babi rusa, anoa di Sulawesi.
Dari koleksi Wallace tersebut yang sekarang tersimpan di
British Museum, London, ribuan peneliti dalam rentang waktu
100 tahun menghasilkan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan
yang mengantar kita ke arah era bioteknologi di abad ini.
Dimulai dari koleksi kemudian berkembang ke taksonomi,
anatomi, fisiologi, biologi sel dan kemudian biologi molekul
hingga bioteknologi seperti yang kita kenal sekarang. Dampak
bioteknologi di bidang kedokteran antara lain berkembangnya
diagnostik molekuler yang sangat akurat untuk berbagai
penyakit, pembuatan obat/vaksin bioteknologi yang lebih
efektif dengan efek samping yang lebih rendah, perkembangan
terapi gen dan terapi regeneratif yang memanfaatkan sel
induk serta berbagai perkembangan lain yang menakjubkan.
Keanekaragaman genom manusia Indonesia sudah kita sadari
pentingnya. Lembaga Biologi Molekul Eijkman di Jakarta yang
lahir pada tahun 1992 aktif melakukan kegiatan penelitian
dengan memanfaatkan besarnya sumber daya genetik manusia (SDGM)
Indonesia ini. Selain di Lembaga Eijkman, saat ini koleksi
SDGM Indonesia tersebar di berbagai universitas, rumah sakit
pendidikan, lembaga penelitian baik di dalam maupun di luar
negeri dan di beberapa lembaga penelitian swasta seperti
yang kami kerjakan di PT Sanbe Farma, Bandung (Lihat website
riset: www.ihdreg.com). Atas ketekunan dan kerja keras para
pakar kita: Prof. Sangkot Marzuki (Jakarta), Prof. Abdul
Salam Sofro (Yogyakarta), Prof. Sultana Hussein (Semarang)
dan pakar lainnya di seluruh Indonesia telah terkumpul
sejumlah besar koleksi DNA manusia yang meliputi berbagai
jenis penyakit genetik seperti kebutaan, ketulian, kencing
manis, penyakit darah talasemia, sindroma fragile-X,
penyakit kardiovaskular, kanker keturunan dan lain-lain.
Namun demikian masih lebih banyak lagi yang harus kita
kumpulkan.
Koleksi DNA Manusia Indonesia
Indonesia dengan luas wilayah 5,2 juta kilometer persegi,
dihuni oleh 220 juta manusia tersebar di 13.600 pulau dan
terdiri dari 656 etnik/subetnik mulai dari etnik dengan
populasi puluhan juta manusia maupun yang hanya beberapa
ratus orang saja.
Koleksi lengkap SDGM ini merupakan dasar strategis
penemuan gen penyakit, aplikasi medik yang ujungnya
penciptaan produk. Saat ini sudah diketahui sekitar 30.000
50.000 gen. Dari koleksi SDGM kita, diperkirakan akan
ditemukan sekitar 3.000 4.000 mutasi baru pada gen resesif
dan ratusan untuk gen dominan. Mungkin perlu waktu puluhan
tahun untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan ini. Berbagai
negara seperti Norwegia, Inggris, Cina, Singapura giat
memperbesar koleksinya dan punya program nasional
masing-masing. Negara-negara maju dengan kekuatan ekonomi
raksasanya sudah barang tentu lebih dulu terjun ke arena
yang sangat menjanjikan ini. Koleksi awal dapat dimulai
dengan menyatukan semua koleksi yang tersebar di berbagai
pusat penelitian, universitas, rumah sakit pendidikan di
Indonesia maupun luar negeri. Untuk menambah koleksi dapat
dimulai dengan mengirim ekspedisi ke berbagai daerah
sebagaimana dikerjakan Wallace lebih seratus tahun lampau.
Dalam tahun 2003, Dr. Amin Soebandrio (Kementerian Ristek,
Jakarta) sudah mulai memasukkan SDGM ini dalam aktivitas
eksplorasi keanekaragaman hayati. Koleksi nasional ini
sebaiknya dipayungi Undang Undang Perlindungan Sumber Daya
Genetik Manusia (UU-PSDGM) yang kabarnya sedang disiapkan.
Bila nanti terwujud, kami mengusulkan namanya: The
Wallace Institute. Sebagai sandingan The Eijkman Institute
yang sudah kita punya. Kedua institut tersebut akan menjadi
monumen bangsa di bidang ilmu pengetahuan. Dari keduanya
akan mengalir hasil penelitian yang mendorong perkembangan
ekonomi melalui penciptaan paten, produk diagnostik dan
obat-obatan serta berbagai teknologi kedokteran lainnya.
Christiaan Eijkman pemenang hadiah Nobel 1929 untuk penemuan
mengenai hubungan kekurangan vitamin B1 dengan beri-beri
bekerja di Indonesia, namanya telah kita abadikan. Sangat
pantas bila Alfred Russel Wallace yang juga bekerja di
Indonesia (1854 1862) namanya kita abadikan dalam lembaga
riset bioteknologi kedokteran prestisius yang mengoleksi
semua SDGM kita.
The Wallace Institute diharapkan mempunyai koleksi DNA
terlengkap dari SDGM Indonesia untuk berbagai penyakit
genetik dan akan menarik para ilmuwan seluruh dunia untuk
bekerja bahu-membahu menemukan gen baru untuk menjawab
tantangan dunia kedokteran di masa mendatang. Pada akhirnya
akan mendorong penciptaan produk, peningkatan ekonomi bangsa
yang berbasis ilmu pengetahuan dengan peluang bisnis
milyaran dolar.
dr. Kadarsyah, MS dan Dr. J. Hilgers. Sanbe Biotech and
Research Division, Bandung, Indonesia
|